Minggu, 20 Juli 2025

Papua Bukan Lagi Pulau, Tapi Excel File Milik Investor

Diskusi tentang Papua menurutku selalu menarik, tapi kayak terbatas aja gitu. Mungkin karena informasi yang akurat dan lawan bicara yang bisa ngebahas ini nggak banyak.

Yang paling familiar tentang Papua jelas SDA yang luar biasa melimpah. Misalnya, tambang Grasberg yang dikuasai Freeport sejak 1967, bisa menghasilkan emas sebanyak 240 kg per hari pada 2019. Itu belum termasuk tembaga dan perak.

Sebenarnya kekayaan Papua ini nggak cuma pada SDA aja, karena masih ada hutan dan laut yang jika dikelola secara benar dan tepat, pendapatannya nggak kalah besar dari sektor pertambangan.

Sebagian besar wilayah Papua adalah hutan. Hutan Papua ini merupakan penopang hidup masyarakat setempat.

Karena hutan itu menyediakan beragam kebutuhan mereka, mulai dari sumber pangan seperti sagu, ikan, daging hewan buruan, sayuran, sampai tumbuhan obat.

Sebenarnya hutan Papua ini tidak hanya bermanfaat untuk masyarakat sekitar saja. Tanpa kita sadari, hutan Papua ini sangat besar perannya dalam hidup kita dan dunia.

Hutan Papua sering disebut dengan "paru-paru dunia". Hutan ini termasuk salah satu penghasil oksigen terbesar di bumi, sekaligus penyerap karbon dioksida dan gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Jadi kebayang nggak kira-kira apa yang terjadi jika hutan Papua dimusnahkan?

Lebih gilanya lagi, usaha pemusnahan itu ternyata sengaja dilakukan.

Ada banyak proyek-proyek yang bakal membawa bencana bagi rakyat Papua dan kita semua, karena mengganggu kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Misalnya oleh Freeport. Menurut BPK pada 2023 lalu (Badan Pemeriksa Keuangan), perusahaan Amerika itu telah menggunakan kawasan hutan lindung seluas 4.535 hektare. Diperkirakan negara menelan kerugian sebesar Rp 185 triliun saat operasi produksi.

Pada 2020 lalu, kita dikejutkan dengan kejahatan perusahaan perkebunan milik konglomerat Indonesia-Korea yakni Korindo Group, yang telah membakar lahan di Papua untuk kepentingan perkebunan.

Korindo memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Papua dan telah menghancurkan sekitar 57.000 hektare hutan di provinsi tersebut sejak 2001. Ini hampir setara dengan luas ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Lalu pada 2024, pemerintah Indonesia memutuskan untuk melanjutkan proyek Food Estate di Merauke. Proyek ini akan mengorbankan hutan seluas 2,29 juta hektare menjadi lahan tebu dan bioetanol.

FYI, bioetanol itu etanol (alkohol) yang diproduksi dari bahan-bahan organik yang dapat diperbarui, seperti tanaman (misalnya jagung, tebu, singkong) atau limbah pertanian. Berbeda dengan etanol yang berasal dari minyak bumi.


Bayangin aja, tiba-tiba sejumlah besar militer datang di dekat rumah, terus beberapa nyuruh kita pindah karena mau ada proyek. Lebih pedihnya lagi, yang mengendarai eskavator itu tentara.

Seolah-olah penjarahan lahan ini legal, plus sekitar 2.000 militer sengaja dikerahkan untuk mengamankan proyek ini.

Tidak hanya itu, militer juga mengawal setiap eskavator dengan persenjataan lengkap untuk mengeksekusi konversi hutan ini. Hal ini tentu membuat warga sekitar takut.

Gimana nggak, yang semula aman-aman aja, tiba-tiba rumah digusur dan sumber pangan dihancurkan. Lebih parahnya lagi, diperlakukan kayak bakal ngancam negara gitu.

Di sini aku ngerasa, apakah memang orang-orang Papua yang notabene-nya warga sipil kudu banget nih berhadapan sama militer? Emang mereka nggak bisa diajak ngobrol santai aja gitu, harus banget treatment-nya kayak operasi militer?

Food Estate ini sama sekali mengabaikan keberadaan mereka sebagai manusia yang perlu dijaga kelangsungan dan kualitas hidupnya. Apalah arti angka-angka ekonomi itu dibanding harus melihat nyawa yang terancam akibat keberlangsungan hidupnya diganggu?

Rakyat Papua adalah pihak pertama yang merasakan langsung kejahatan berkedok "pemenuhan kebutuhan pangan nasional".

Perlu diingat bahwa karbon dioksida jika tidak terserap dengan baik oleh "paru-paru dunia", maka banyak sekali bahaya yang bakal mengintai. Dimulai dari naiknya suhu bumi, pola hujan yang tidak teratur, perubahan kualitas udara, maupun siklus air.

Hilangnya hutan juga berakibat pada kepunahan spesies-spesies hewan maupun tumbuhan. Hal ini berpotensi hilangnya sumber daya genetik yang berguna bagi dunia pengetahuan dan penelitian, obat-obatan, atau sektor lainnya di masa depan.

Tentu kita tidak mau membiarkan ini semua terjadi. Kita tidak akan menunggu sosok superhero akan menyelamatkan Papua. Karena perlawanan kita terhadap kejahatan ini mesti dimulai dari kita-nya sebagai warga negara yang peduli masa depan.

Mari kita mulai dengan:

  1. Melek bahwa rakyat Indonesia hari ini dibuat sekarat karena perilaku tamak perusahaan dan penguasa.

  2. Turut berkontribusi aktif sesuai kapasitas kita: menguak dan mengedukasi masyarakat lain untuk mengecam dan menuntut adanya perbaikan sistem bobrok yang menyengsarakan ini.

  3. Enggan mempertahankan sistem yang berorientasi pada cuan semata, dan di sisi lain, menentukan sistem pengganti yang lebih baik dari sistem hari ini. Tiada sistem yang lebih baik selain sistem yang diturunkan oleh Allah SWT, yakni Islam.

Terakhir.
Alhamdulillah akhirnya unek-unekku tentang Papua terluapkan. Nyesek sedikit berkurang, meski sakit hatiku belum sembuh betul… dan kayaknya nggak bakal sembuh sampai ngelihat derita rakyat Papua segera berakhir.




Gambar

0 comments:

Posting Komentar