Jumat, 14 Februari 2025

Visi Misi Pernikahan: Menuju Surga Bersama—Tapi Harus Tinggi, Glowing, dan Bergaji

Baru kemarin nemu tweet, mungkin semacam unpopular opinion, tentang ta'aruf online yang bikin mengernyitkan dahi.

Misalnya, ada kecenderungan sebagian laki-laki yang ikut taaruf yang notabenenya dianggap lebih islami, ternyata justru takut jadi breadwinner sehingga mencari istri yang bekerja. 


Selain itu, muncul tren di mana mereka memiliki kriteria yang sangat spesifik dan non-negotiable, seperti harus putih, bentuk tubuh tertentu, tinggi badan, bahkan ada yang sampai memperhatikan lingkar badan segala.

Fenomena ini menarik karena seharusnya dalam Islam, fisik memang boleh jadi pertimbangan, tapi bukan satu-satunya hal yang diprioritaskan. 

Jika taaruf identik dengan proses yang lebih syar'i, tapi yang ditekankan justru kenyamanan visual semata, apakah ada yang salah dengan cara pandang kita terhadap pernikahan?

Banyak faktor yang bisa menyebabkan tren ini terjadi. Salah satunya adalah pengaruh ekosistem sosial yang semakin menguatkan standar kecantikan tertentu bagi perempuan. 

Paparan media, industri kecantikan, dan budaya populer terus-menerus menampilkan standar yang itu-itu saja, sehingga preferensi pun terpengaruh. 

Belum lagi, banyak orang yang hidup dalam bubble, lingkungan yang hanya memperkuat cara pandang tertentu tanpa banyak interaksi dengan perspektif lain. Akibatnya, standar pasangan ideal mereka bisa jadi terbentuk dari ekspektasi yang sempit.

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa pola pikir ini dipengaruhi oleh eksposur terhadap konten digital, termasuk media hiburan atau bahkan pornografi, yang secara tidak langsung membentuk fantasi dan ekspektasi yang tidak realistis dalam memilih pasangan. 

Namun, tentu ini bukan hanya kesalahan satu pihak. Perempuan yang masuk dalam sistem ini juga perlu menyadari apakah mereka benar-benar memilih atau sekadar mengikuti standar yang sudah terbentuk di lingkungan mereka.

Hidup dalam bubble memang punya lebih banyak pengaruh buruk daripada manfaatnya. Ketika sudah terbiasa dengan sesuatu yang membuat nyaman, kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah pun bisa berkurang. 

Padahal, tingginya angka perceraian seharusnya cukup menjadi alarm bahwa membangun rumah tangga bukan hanya soal good looking atau dukungan finansial, tapi tentang kesiapan mental dan pemahaman akan realitas kehidupan bersama.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan sekadar "Bagaimana cari pasangan yang sesuai kriteria?" tetapi juga "Apakah kriteria kita selama ini benar-benar mencerminkan kesiapan untuk berumah tangga?" 

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan duniawi, tapi sebuah mitsaaqan ghaliizhan—perjanjian yang kuat. Jika kita tidak memiliki insight yang cukup, bagaimana bisa memahami makna sebenarnya dari pernikahan?

Cara pandang pernikahan dalam Islam misalnya, bahwa pernikahan itu mitsaaqan ghaliizhan, gimana kita bisa memahami makna mitsaaqan ghaliizhan kalo ngga punya insight

Atau cara pandang bahwa menikah itu menjalankan ibadah. Esensi dari ibadah adalah pengorbanan. Seandainya masyarakat hari ini punya banyak insight mungkin konsep-konsep seperti ini bakal relateable, jadinya ngga bakal di-skip. 

Ironisnya, di era modern yang katanya mempermudah manusia dengan teknologi, justru banyak yang terjebak dalam penyalahgunaannya. Bukannya memperluas wawasan, malah mempersempit cara pandang.

Memang, ekosistem hari ini sering kali menjerumuskan, tapi sebagai makhluk sosial bukankah kita harusnya lebih banyak aware dengan apa yang terjadi demi mencegah kemungkinan terburuk lainnya.

PR terbesar masyarakat modern adalah memperbaiki kualitas SDM, terutama dalam membangun budaya critical thinking.


0 comments:

Posting Komentar