A Better Tomorrow Get it off your chest!

Minggu, 20 Juli 2025

Papua Bukan Lagi Pulau, Tapi Excel File Milik Investor

Diskusi tentang Papua menurutku selalu menarik, tapi kayak terbatas aja gitu. Mungkin karena informasi yang akurat dan lawan bicara yang bisa ngebahas ini nggak banyak.

Yang paling familiar tentang Papua jelas SDA yang luar biasa melimpah. Misalnya, tambang Grasberg yang dikuasai Freeport sejak 1967, bisa menghasilkan emas sebanyak 240 kg per hari pada 2019. Itu belum termasuk tembaga dan perak.

Sebenarnya kekayaan Papua ini nggak cuma pada SDA aja, karena masih ada hutan dan laut yang jika dikelola secara benar dan tepat, pendapatannya nggak kalah besar dari sektor pertambangan.

Sebagian besar wilayah Papua adalah hutan. Hutan Papua ini merupakan penopang hidup masyarakat setempat.

Karena hutan itu menyediakan beragam kebutuhan mereka, mulai dari sumber pangan seperti sagu, ikan, daging hewan buruan, sayuran, sampai tumbuhan obat.

Sebenarnya hutan Papua ini tidak hanya bermanfaat untuk masyarakat sekitar saja. Tanpa kita sadari, hutan Papua ini sangat besar perannya dalam hidup kita dan dunia.

Hutan Papua sering disebut dengan "paru-paru dunia". Hutan ini termasuk salah satu penghasil oksigen terbesar di bumi, sekaligus penyerap karbon dioksida dan gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Jadi kebayang nggak kira-kira apa yang terjadi jika hutan Papua dimusnahkan?

Lebih gilanya lagi, usaha pemusnahan itu ternyata sengaja dilakukan.

Ada banyak proyek-proyek yang bakal membawa bencana bagi rakyat Papua dan kita semua, karena mengganggu kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Misalnya oleh Freeport. Menurut BPK pada 2023 lalu (Badan Pemeriksa Keuangan), perusahaan Amerika itu telah menggunakan kawasan hutan lindung seluas 4.535 hektare. Diperkirakan negara menelan kerugian sebesar Rp 185 triliun saat operasi produksi.

Pada 2020 lalu, kita dikejutkan dengan kejahatan perusahaan perkebunan milik konglomerat Indonesia-Korea yakni Korindo Group, yang telah membakar lahan di Papua untuk kepentingan perkebunan.

Korindo memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Papua dan telah menghancurkan sekitar 57.000 hektare hutan di provinsi tersebut sejak 2001. Ini hampir setara dengan luas ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Lalu pada 2024, pemerintah Indonesia memutuskan untuk melanjutkan proyek Food Estate di Merauke. Proyek ini akan mengorbankan hutan seluas 2,29 juta hektare menjadi lahan tebu dan bioetanol.

FYI, bioetanol itu etanol (alkohol) yang diproduksi dari bahan-bahan organik yang dapat diperbarui, seperti tanaman (misalnya jagung, tebu, singkong) atau limbah pertanian. Berbeda dengan etanol yang berasal dari minyak bumi.


Bayangin aja, tiba-tiba sejumlah besar militer datang di dekat rumah, terus beberapa nyuruh kita pindah karena mau ada proyek. Lebih pedihnya lagi, yang mengendarai eskavator itu tentara.

Seolah-olah penjarahan lahan ini legal, plus sekitar 2.000 militer sengaja dikerahkan untuk mengamankan proyek ini.

Tidak hanya itu, militer juga mengawal setiap eskavator dengan persenjataan lengkap untuk mengeksekusi konversi hutan ini. Hal ini tentu membuat warga sekitar takut.

Gimana nggak, yang semula aman-aman aja, tiba-tiba rumah digusur dan sumber pangan dihancurkan. Lebih parahnya lagi, diperlakukan kayak bakal ngancam negara gitu.

Di sini aku ngerasa, apakah memang orang-orang Papua yang notabene-nya warga sipil kudu banget nih berhadapan sama militer? Emang mereka nggak bisa diajak ngobrol santai aja gitu, harus banget treatment-nya kayak operasi militer?

Food Estate ini sama sekali mengabaikan keberadaan mereka sebagai manusia yang perlu dijaga kelangsungan dan kualitas hidupnya. Apalah arti angka-angka ekonomi itu dibanding harus melihat nyawa yang terancam akibat keberlangsungan hidupnya diganggu?

Rakyat Papua adalah pihak pertama yang merasakan langsung kejahatan berkedok "pemenuhan kebutuhan pangan nasional".

Perlu diingat bahwa karbon dioksida jika tidak terserap dengan baik oleh "paru-paru dunia", maka banyak sekali bahaya yang bakal mengintai. Dimulai dari naiknya suhu bumi, pola hujan yang tidak teratur, perubahan kualitas udara, maupun siklus air.

Hilangnya hutan juga berakibat pada kepunahan spesies-spesies hewan maupun tumbuhan. Hal ini berpotensi hilangnya sumber daya genetik yang berguna bagi dunia pengetahuan dan penelitian, obat-obatan, atau sektor lainnya di masa depan.

Tentu kita tidak mau membiarkan ini semua terjadi. Kita tidak akan menunggu sosok superhero akan menyelamatkan Papua. Karena perlawanan kita terhadap kejahatan ini mesti dimulai dari kita-nya sebagai warga negara yang peduli masa depan.

Mari kita mulai dengan:

  1. Melek bahwa rakyat Indonesia hari ini dibuat sekarat karena perilaku tamak perusahaan dan penguasa.

  2. Turut berkontribusi aktif sesuai kapasitas kita: menguak dan mengedukasi masyarakat lain untuk mengecam dan menuntut adanya perbaikan sistem bobrok yang menyengsarakan ini.

  3. Enggan mempertahankan sistem yang berorientasi pada cuan semata, dan di sisi lain, menentukan sistem pengganti yang lebih baik dari sistem hari ini. Tiada sistem yang lebih baik selain sistem yang diturunkan oleh Allah SWT, yakni Islam.

Terakhir.
Alhamdulillah akhirnya unek-unekku tentang Papua terluapkan. Nyesek sedikit berkurang, meski sakit hatiku belum sembuh betul… dan kayaknya nggak bakal sembuh sampai ngelihat derita rakyat Papua segera berakhir.




Gambar

Jumat, 14 Februari 2025

Visi Misi Pernikahan: Menuju Surga Bersama—Tapi Harus Tinggi, Glowing, dan Bergaji

Baru kemarin nemu tweet, mungkin semacam unpopular opinion, tentang ta'aruf online yang bikin mengernyitkan dahi.

Misalnya, ada kecenderungan sebagian laki-laki yang ikut taaruf yang notabenenya dianggap lebih islami, ternyata justru takut jadi breadwinner sehingga mencari istri yang bekerja. 


Selain itu, muncul tren di mana mereka memiliki kriteria yang sangat spesifik dan non-negotiable, seperti harus putih, bentuk tubuh tertentu, tinggi badan, bahkan ada yang sampai memperhatikan lingkar badan segala.

Fenomena ini menarik karena seharusnya dalam Islam, fisik memang boleh jadi pertimbangan, tapi bukan satu-satunya hal yang diprioritaskan. 

Jika taaruf identik dengan proses yang lebih syar'i, tapi yang ditekankan justru kenyamanan visual semata, apakah ada yang salah dengan cara pandang kita terhadap pernikahan?

Banyak faktor yang bisa menyebabkan tren ini terjadi. Salah satunya adalah pengaruh ekosistem sosial yang semakin menguatkan standar kecantikan tertentu bagi perempuan. 

Paparan media, industri kecantikan, dan budaya populer terus-menerus menampilkan standar yang itu-itu saja, sehingga preferensi pun terpengaruh. 

Belum lagi, banyak orang yang hidup dalam bubble, lingkungan yang hanya memperkuat cara pandang tertentu tanpa banyak interaksi dengan perspektif lain. Akibatnya, standar pasangan ideal mereka bisa jadi terbentuk dari ekspektasi yang sempit.

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa pola pikir ini dipengaruhi oleh eksposur terhadap konten digital, termasuk media hiburan atau bahkan pornografi, yang secara tidak langsung membentuk fantasi dan ekspektasi yang tidak realistis dalam memilih pasangan. 

Namun, tentu ini bukan hanya kesalahan satu pihak. Perempuan yang masuk dalam sistem ini juga perlu menyadari apakah mereka benar-benar memilih atau sekadar mengikuti standar yang sudah terbentuk di lingkungan mereka.

Hidup dalam bubble memang punya lebih banyak pengaruh buruk daripada manfaatnya. Ketika sudah terbiasa dengan sesuatu yang membuat nyaman, kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah pun bisa berkurang. 

Padahal, tingginya angka perceraian seharusnya cukup menjadi alarm bahwa membangun rumah tangga bukan hanya soal good looking atau dukungan finansial, tapi tentang kesiapan mental dan pemahaman akan realitas kehidupan bersama.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan sekadar "Bagaimana cari pasangan yang sesuai kriteria?" tetapi juga "Apakah kriteria kita selama ini benar-benar mencerminkan kesiapan untuk berumah tangga?" 

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan duniawi, tapi sebuah mitsaaqan ghaliizhan—perjanjian yang kuat. Jika kita tidak memiliki insight yang cukup, bagaimana bisa memahami makna sebenarnya dari pernikahan?

Cara pandang pernikahan dalam Islam misalnya, bahwa pernikahan itu mitsaaqan ghaliizhan, gimana kita bisa memahami makna mitsaaqan ghaliizhan kalo ngga punya insight

Atau cara pandang bahwa menikah itu menjalankan ibadah. Esensi dari ibadah adalah pengorbanan. Seandainya masyarakat hari ini punya banyak insight mungkin konsep-konsep seperti ini bakal relateable, jadinya ngga bakal di-skip. 

Ironisnya, di era modern yang katanya mempermudah manusia dengan teknologi, justru banyak yang terjebak dalam penyalahgunaannya. Bukannya memperluas wawasan, malah mempersempit cara pandang.

Memang, ekosistem hari ini sering kali menjerumuskan, tapi sebagai makhluk sosial bukankah kita harusnya lebih banyak aware dengan apa yang terjadi demi mencegah kemungkinan terburuk lainnya.

PR terbesar masyarakat modern adalah memperbaiki kualitas SDM, terutama dalam membangun budaya critical thinking.


Kamis, 06 Februari 2025

Kerja Keras Siang Malam Demi Hidup di Negara Juara Korupsi? Mantap, Kak!

Sebagai orang yang nggak setuju sama pemberdayaan perempuan yang ala kapitalisme, aku kadang kesel banget sama eksploitasi peran perempuan ini. Yang lebih bikin kesel lagi, banyak perempuan malah nyoba meromantisasi semua itu.

Dalam kapitalisme, nilai perempuan seringkali diukur dari hal-hal yang sifatnya materi, kayak seberapa banyak uang yang dia punya atau seberapa tinggi posisi karirnya. Padahal, cara pandang kayak gini jelas bertentangan banget sama cara Islam ngasih treatment pada perempuan.

Islam ngajarin kita bahwa materi itu nggak lebih penting dari ide, terutama ide yang berasal dari aqidah Islam. Karena kalau materi itu hilang, manusia bisa cari lagi selama mereka masih punya ide yang kuat.

Berbeda halnya kalau cuma mewarisi materi doang, tanpa ide. Itu bisa jadi bom waktu yang meledak kapan aja. Manusia jadi diperbudak sama keinginan dan nggak bisa ngontrol ketamakan mereka.

Termasuk soal pemberdayaan perempuan, bukan soal banyaknya materi yang mereka punya. Tapi lebih ke kontribusi mereka dalam membangun SDM suatu negara. Peran perempuan itu besar banget, terutama dalam hal intelektualitas yang selaras dengan aqidah Islam.

Perempuan nggak cuma bakal puas sama ilmu yang dia punya buat dirinya sendiri, tapi dengan ilmunya dia bisa ngajarin orang lain, ngebantu selamatin masyarakat dari kebodohan dan kekufuran.

Nah, kapitalisme sekarang malah bikin banyak perempuan lebih fokus sama diri sendiri, ngeromantisasi keegoisan mereka demi wishlist yang menurut mereka keren. Padahal, beberapa dari wishlist itu bisa jadi bakal mereka sesali nantinya.

Aku jadi penasaran sih, gimana ya caranya mereka bisa tetep ngejar obsesi materialistik di tengah biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, negara yang juara dalam korupsi, dan hukum yang jelas-jelas nggak berpihak ke rakyat?

Gimana sih mereka bisa hidup nyaman di tengah ketidakjelasan kayak gini???

Yang lebih aneh lagi, banyak perempuan sekarang yang ngeluh soal masalah yang seharusnya mereka tahu itu bukan masalah pribadi. Masalah kayak gaji yang underpaid, jadi sandwich generation, atau bahkan jadi korban kekerasan seksual.

Akar masalahnya nggak disentuh, malah kejebak dengan konflik horizontal. Masalah sistem yang rusak ini nggak mereka peduliin, lebih milih kabur buat healing dan posting di media sosial.

Lihat kekacauan ini, aku sempet mau nulis sarkas buat para workaholic itu. Untungnya aku mikir dulu, akhirnya nggak jadi posting.

Karena kenyataannya, sarkasme nggak bikin orang sadar. Justru mereka bakal marah, mekanisme pertahanan diri mereka keluar, dan malah ngehate Islam. Sekali lagi namanya nyadarin orang, nggak semudah bikin mereka ngamuk. 

Dakwah sekarang butuh banget ngebuka pemahaman ke masyarakat bahwa Islam nggak nyetujuin apa yang mereka lakuin selama ini. Islam nggak membenarkan aktivitas yang core produktivitasnya serba matrealistik.

Jadi ya, kalau mau diberdayakan, perempuan nggak perlu ngukur diri dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tapi dari sejauh mana dia bisa bawa manfaat untuk orang lain. Kekuatan perempuan ada di intelektualitas dan dedikasinya, bukan cuma di karir atau harta.

Hidup di dunia yang dipenuhi system error kayak gini, nggak ada salahnya buat lebih kritis dan mulai nyari solusi berdasarkan prinsip-prinsip yang benar, bukan cuma ngejar materi. Karena, kalau semuanya cuma soal uang dan status, kita bakal semakin jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Jangan lupa, hidup bukan cuma buat memenuhi wishlist, tapi juga buat ngeraih kebahagiaan yang lebih bermakna dan bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Semoga kita semua bisa lebih peka dan sadar dengan apa yang terjadi di sekitar kita, dan nggak cuma ikutan arus yang nggak jelas. Punya tujuan yang jelas dan ide yang kuat, itu jauh lebih berharga daripada sekadar material.


Minggu, 22 Desember 2024

Kok Hidup Gini-Gini Aja? Mungkin Karena Lo Milih Diam Waktu Oligarki Lagi Sibuk Ngatur

Ngomongin oligarki. Kayaknya banyak yang bakalan skip nih, tapi tolonglah jangan skip demi masa depan kita bersama 🙏

Buat kamu yang belum tahu, oligarki itu apa sih? Oligarki adalah sistem pemerintahan di mana kekuasaan dipegang oleh sekelompok orang kecil yang punya pengaruh besar. Biasanya sih mereka dari kalangan elite atau orang kaya.

Oligark tanpa i? Itu anggota oligarki.

Contoh yang simpel aja: Bayangin di sekolah kamu ada geng populer yang rada rese. Mereka bisa bikin atau nentuin tren fashion, bikin orang lain takut sama mereka, bahkan bisa bikin aturan yang cuma menguntungkan geng mereka doang.

Padahal, murid lain lebih banyak, kan? Seharusnya bisa ngelawan. Tapi karena geng ini udah "OP", mereka yang lain jadi ngga berdaya.

Mereka ganggu banget sih. Tapi, kenapa masih ada?

Jawabannya sederhana: Mereka punya duit banyak. Jadi, sekolah ngga berani nolak, karena kalau geng ini "dibasmi", sekolahnya bisa rugi.

Begitu deh, itulah oligarki dalam kehidupan sehari-hari. Oligarki itu ngga cuma ada di sekolah, tapi juga di kehidupan nyata, termasuk di negara kita.

Oligarki di Demokrasi
Sistem demokrasi itu sistem yang mahal. Karena itu, yang bisa sampai ke puncak kekuasaan ya yang punya uang banyak—biasanya para pemodal besar. Mereka ngga cuma butuh kekuasaan buat bisnisnya, tapi juga dukungan dari para politisi. Dan sekarang, ngga jarang mereka malah jadi politisi itu sendiri. Praktis banget, kan? Cuma sekalian ngatur semuanya demi kepentingan mereka.

Sekarang, pertanyaannya: Which one are you?

Oligarki jadi bahan pembicaraan yang ngga pernah ada habisnya. Banyak yang pengen melawan, tapi sayangnya ngga banyak yang ngerti cara efektifnya. Cuma komen julid atau demo doang ngga cukup buat ngelawan power mereka. Di Amerika, ada gerakan Occupy Wall Street dengan slogan "We are the 99%, they are the 1%". Tapi ya... hasilnya? Gak banyak berubah, oligarki tetap kuat sampai sekarang.


Awareness itu Penting!

Di media sosial, rame banget yang ngomongin apa, mengapa, dan bagaimana menghentikan dominasi oligarki. Tapi ternyata lebih banyak yang nontonin konten yang "engga penting", kayak joget, gosip artis, atau influencer.

Apa artinya? Ini menunjukkan kalau banyak orang yang ngga aware dengan kondisi darurat negara kita. Ada dua kubu: Indonesia darurat dan Indonesia baik-baik aja. Dan kebanyakan orang yang cuma asik dengan dunia mereka sendiri, sibuk pamer harta atau skill demi tampil keren di mata orang lain, biasanya merasa kalau oligarki ngga seburuk itu. Mereka masih bisa enjoy hidup.

Lagian, kenapa pusing soal deflasi, harga barang naik, pendidikan jelek, atau korupsi pejabat kalau akhir pekan masih bisa bersenang-senang, kan? Hidup masih bisa tenang, meskipun di bawah bayang-bayang oligarki.

Mindset yang Berbahaya
Yang paling bahaya adalah kalau mindset ini mulai dimasukkan ke dalam ajaran agama. Misalnya, "Ya begini nih cobaan hidup, kita sabar aja sambil berdoa." Atau "Untuk melawan oligarki, kita harus kaya dulu supaya bisa sedekah dan ngerebut hati rakyat."

Padahal, kalau kamu peduli sama negara, kamu ngga bakal tinggal diam. Kamu bakal mikirin perubahan dan berusaha untuk mewujudkannya, bukan cuma ngomongin doang. Aktivitas berpikir bukan hanya soal "common sense", tapi juga sebagai wujud dedikasi kepada Sang Pencipta.

Kenapa Perjuangan Melawan Oligarki Masih Mandek?
Banyak yang coba meruntuhkan dominasi oligarki, tapi kok progresnya ngga kelihatan ya? Salah satunya karena orang-orang masih ngga paham bahwa kunci untuk mengakhiri oligarki adalah mengganti sistem yang bikin oligarki itu muncul dan terus berkembang—yaitu demokrasi.

Iya, demokrasi itu yang jadi sumber masalahnya. Kalau kita tetap mempertahankan demokrasi, ya perjuangan kita ngga akan ada artinya. Jadi, gimana dong?

Solusi: Sistem Khilafah
Solusinya adalah dengan mengganti sistem demokrasi ke sistem yang udah terbukti lebih baik, yang bisa memastikan oligarki ngga bisa eksis lagi. Itu dia, sistem Islam yang diterapkan dalam satu institusi bernama Khilafah.

Penasaran bagaimana Khilafah bisa menghilangkan oligarki? Gampang! Cek terus blog ini ya!

See you!


Jumat, 20 Desember 2024

Si Paling Bebas, Tapi Hijab Dilarang—Maksudnya Bebas dari Apa Dulu Nih?

Di tengah klaim kebebasan yang digembar-gemborkan oleh negara-negara Barat, kenyataannya banyak kebijakan yang justru membatasi hak umat Islam untuk mengekspresikan keyakinan mereka. 

Salah satunya adalah Prancis, yang meski mengaku menjunjung tinggi kebebasan, malah sering kali terlibat dalam diskriminasi terhadap umat Islam. Di sisi lain Prancis mengaku sebagai negara yang paling revolusi tapi doyan diskriminasi.

Ngomongin soal paling revolusi, revolusi prancis pecah karena adanya semangat liberte, egalite, fraternite. Rakyat yang sudah muak dengan bangsawan turun ke jalan, untuk menentang dominasi bangsawan dan agamawan selama berabad-abad lamanya. 

Ngga bisa dipungkiri ya bahwa Prancis ini emang rada traumatik dengan adanya dominasi agama. Bukan soal toleransi tapi lebih ke arah bahwa agama dijadikan sebagai alat untuk melegalkan setiap kebijakan dzalimnya Raja. 

Makanya ngga heran jika Prancis ini benar-benar menjunjung tinggi sekulerisme. Sebuah ide bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam urusan politik dan lainnya. Agama hanya boleh ada di ruang private. 


Yang aneh adalah salah satu moto dalam revolusi itu adalah liberte yang artinya kebebasan. Bahkan di Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (Déclaration des Droits de 'Homme et du Citoyen) tahun 1789 menyatakan adanya perlakuan yang sama di bawah hukum, perlindungan hak-hak manusia, dan kebebasan beragama.

Orang Barat memang pandai berteori, tapi dalam praktiknya banyak yang bertentangan dengan teori yang mereka buat. Misalnya, ketika seorang guru di Prancis menegur murid yang mengenakan hijab, itu bukan sekadar soal aturan sekolah, tetapi juga menunjukkan bagaimana negara memaksakan pemahaman mereka tentang kebebasan dan kesetaraan, yang justru mengekang kebebasan berekspresi bagi umat Islam.

Iya sih banyak yang bilang "When in Rome, do as the Romans do".

Nah, disini yang bikin gatel buat beropini. 

Yang pertama revolusi Prancis itu sangkut pautnya karena dominasi bangsawan didukung sama pihak gereja, Jadi, kalo Islam disangkut pautin dalam sekulerisme mereka, keknya mereka yang ngga nyambung dan kurang literasi sejarah peradaban Islam. Jelas-jelas revolusi Prancis itu ngga ada hubungannya dengan Islam beserta ajarannya.

Yang kedua Prancis sendiri mengakui kebebasan beragama, tapi mereka yang membatasi cara mengekspresikannya. Ini bukti bahwa kebebasan yang selama ini dikoar-koarkan itu omong kosong. Tapi ngakunya si paling Liberal.

Sebelum ini mereka juga ngelindungin charlie hebdo yang bikin karikatur nabi Muhammad saw katanya bagian dari kebebasan. Mengolok = kebebasan, menunjukkan identitas muslimah = melanggar undang-undang. 

Namun, kenyataan menunjukkan kebebasan mereka hanya berlaku bagi yang sejalan dengan pandangan mereka, sementara umat Islam dibatasi dalam mengekspresikan keyakinan mereka, seperti larangan hijab di sekolah-sekolah. 

Mereka mempermainkan teori kebebasan yang mereka bikin sendiri sesuai dengan kebencian mereka terhadap Islam. Inilah bukti bahwa sekulerisme akan selalu cari cara buat menghadang siapapun buat mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. 

Misalnya kalo di Indonesia, maka isu yang sering dimainin adalah radikalisme dan intoleransi. Orang bakal dicap radikal kalo ngga toleran dengan agama lain. 

Caranya dengan mencapuradukkan antara ajaran islam dengan agama lain, contohnya shalawatan di gereja, sampe heboh banget Paus dateng ke Indonesia buat nasehatin kita buat bertoleransi. Lha padahal di Uruguay noh mayoritas katolik ngga ngebolehin adanya masjid.

Di sisi lain hari ini umat Islam ditakut-takuti dengn Islam kaffah, karena dianggap sebagai tanda intoleran dan bibit-bibit munculnya radikalisme, dll. Maka ngga heran sosialisasi Islam Moderat dimana-mana. Dan muncul pertanyaan "Sebenarnya Islam yang seperti apa sih yang membahayakan? Emang kalo menganut Islam Kaffah jadi menyimpang gitu?"

Sayangnya, saat ini pemerintah sering melibatkan Barat dalam mengkaji Islam agar terkesan toleran dan tidak radikal. Apakah umat Islam begitu tidak percaya diri hingga perlu merujuk pada standar Barat, padahal kita seharusnya mempelajari Islam secara kaffah sesuai Al-Qur'an dan Sunnah melalui ulama-ulama yang ikhlas dan berkompeten?

Sebagai umat Islam, sudah saatnya kita kembali mempelajari Islam secara kaffah, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa terpengaruh oleh standar ganda yang diterapkan oleh dunia Barat. Kita harus percaya bahwa jalan Rasulullah saw adalah jalan terbaik untuk menjalankan aturan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bishawab