Sebagai orang yang nggak setuju sama pemberdayaan perempuan yang ala kapitalisme, aku kadang kesel banget sama eksploitasi peran perempuan ini. Yang lebih bikin kesel lagi, banyak perempuan malah nyoba meromantisasi semua itu.
Dalam kapitalisme, nilai perempuan seringkali diukur dari hal-hal yang sifatnya materi, kayak seberapa banyak uang yang dia punya atau seberapa tinggi posisi karirnya. Padahal, cara pandang kayak gini jelas bertentangan banget sama cara Islam ngasih treatment pada perempuan.
Islam ngajarin kita bahwa materi itu nggak lebih penting dari ide, terutama ide yang berasal dari aqidah Islam. Karena kalau materi itu hilang, manusia bisa cari lagi selama mereka masih punya ide yang kuat.
Berbeda halnya kalau cuma mewarisi materi doang, tanpa ide. Itu bisa jadi bom waktu yang meledak kapan aja. Manusia jadi diperbudak sama keinginan dan nggak bisa ngontrol ketamakan mereka.
Termasuk soal pemberdayaan perempuan, bukan soal banyaknya materi yang mereka punya. Tapi lebih ke kontribusi mereka dalam membangun SDM suatu negara. Peran perempuan itu besar banget, terutama dalam hal intelektualitas yang selaras dengan aqidah Islam.
Perempuan nggak cuma bakal puas sama ilmu yang dia punya buat dirinya sendiri, tapi dengan ilmunya dia bisa ngajarin orang lain, ngebantu selamatin masyarakat dari kebodohan dan kekufuran.
Nah, kapitalisme sekarang malah bikin banyak perempuan lebih fokus sama diri sendiri, ngeromantisasi keegoisan mereka demi wishlist yang menurut mereka keren. Padahal, beberapa dari wishlist itu bisa jadi bakal mereka sesali nantinya.
Aku jadi penasaran sih, gimana ya caranya mereka bisa tetep ngejar obsesi materialistik di tengah biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, negara yang juara dalam korupsi, dan hukum yang jelas-jelas nggak berpihak ke rakyat?
Gimana sih mereka bisa hidup nyaman di tengah ketidakjelasan kayak gini???
Yang lebih aneh lagi, banyak perempuan sekarang yang ngeluh soal masalah yang seharusnya mereka tahu itu bukan masalah pribadi. Masalah kayak gaji yang underpaid, jadi sandwich generation, atau bahkan jadi korban kekerasan seksual.
Akar masalahnya nggak disentuh, malah kejebak dengan konflik horizontal. Masalah sistem yang rusak ini nggak mereka peduliin, lebih milih kabur buat healing dan posting di media sosial.
Lihat kekacauan ini, aku sempet mau nulis sarkas buat para workaholic itu. Untungnya aku mikir dulu, akhirnya nggak jadi posting.
Karena kenyataannya, sarkasme nggak bikin orang sadar. Justru mereka bakal marah, mekanisme pertahanan diri mereka keluar, dan malah ngehate Islam. Sekali lagi namanya nyadarin orang, nggak semudah bikin mereka ngamuk.
Dakwah sekarang butuh banget ngebuka pemahaman ke masyarakat bahwa Islam nggak nyetujuin apa yang mereka lakuin selama ini. Islam nggak membenarkan aktivitas yang core produktivitasnya serba matrealistik.
Hidup di dunia yang dipenuhi system error kayak gini, nggak ada salahnya buat lebih kritis dan mulai nyari solusi berdasarkan prinsip-prinsip yang benar, bukan cuma ngejar materi. Karena, kalau semuanya cuma soal uang dan status, kita bakal semakin jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya.
Jangan lupa, hidup bukan cuma buat memenuhi wishlist, tapi juga buat ngeraih kebahagiaan yang lebih bermakna dan bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Semoga kita semua bisa lebih peka dan sadar dengan apa yang terjadi di sekitar kita, dan nggak cuma ikutan arus yang nggak jelas. Punya tujuan yang jelas dan ide yang kuat, itu jauh lebih berharga daripada sekadar material.

0 comments:
Posting Komentar