
Banyak yang membicarakan tentang film Parasite ini karena digadang-gadang akan memenangkan Academy Awards ke-92, mengalahkan Joker atau film-film Hollywood lainnya. Akhirnya kepo juga buat cari tahu emangnya semenarik itu ya filmnya??
Dari beberapa review
yang dibaca, film ini menceritakan tentang konflik kelas sosial di Korea, khususnya dalam hal tempat tinggal.
Ada keluarga kaya raya, rumahnya besar, mewah, udaranya
sejuk, dan yang pasti bersih. Intinya emang typical orang kaya kota yang tinggal di lingkungan elit.
Sementara satu keluarga lainnya, mereka tinggal
di rumah bawah tanah (semi basement) yang disebut Banjiha yang bahkan sinar matahari
saja tidak bisa masuk. Jadi yaa ngga layak buat ditinggali manusia. Belum lagi pas banjir, betapa sengsaranya mereka karena kerugian besar yang mesti ditanggung.
Agak menarik buat ngulik lebih dalam, emang hunian semi basement itu masih ada di Korea? Ternyata masih. Karena itulah satu-satunya hunian yang mereka bisa miliki, kenapa?
Karena krisis finansial membuat harga rumah semakin mahal. Harga rumah mahal emang bukan hanya jadi masalah di Korea tapi hampir di seluruh dunia, terutama wilayah-wilayah urban.
Pertumbuhan ekonomi yang dialami Korea tidak bisa merepresentasikan kesejahteraan masyarakat per individu. Tapi, yang namanya negara kapitalis apalagi yang dikultuskan selain pertumbuhan ekonomi, padahal kenaikan angka kemiskinan bertambah secara signifikan.
Beda Korea, Beda Amerika
Di Amerika juga mengalami hal serupa banyak warganya yang kesulitan untuk membeli rumah dan memilih tinggal di sebuah rumah mungil. Atau lebih dikenal dengan istilah The Tiny House. Bermula di AS, rumah mungil kini juga bermunculan di seantero Kanada, Australia, dan Inggris Raya.
Rumah mungil ini dipromosikan
sebagai jawaban atas krisis perumahan berharga terjangkau. Ini adalah
alternatif yang didambakan dari rumah tradisional dan hipotek yang
menyertainya.
Normalisasi hunian-hunian yang ngga layak huni ini tidak akan merubah fakta bahwa hidup kita hari ini semakin dipersulit. Buat napas aja kita sulit orang polusi dimana-mana. Yang produksi polusi? Ya, orang kaya as known as oligarki.
Optimisme Kosong
Gelombang kekecewaan terhadap rezim hari ini makin lama makin membesar. Akan tetapi kecewa itu lumrah terjadi jika ada harapan. Harapan akan perubahan di dalam rezim/sistem kapitalisme hari ini ibaratnya masih menyala terang.
Padahal kapitalisme ini by data sudah menghasilkan kemiskinan struktural dan tersistematis. Ini ngga mungkin bisa diperbaiki dengan menata puing-puing kecil bangunan yang udah roboh.
Itulah anehnya masyarakat kita hari ini, udah tahu bobrok dan roboh masih aja percaya dan berharap kesejahteraan pada kapitalisme?
Menata Ulang Mindset
Mesti ada keberanian buat memulai langkah yang ngga biasa dilakukan, karena siapa tahu jadi alternatif terbaik for better life. Mulai semuanya dari mindset bahwa "Allah swt nggak mungkin menciptakan manusia tanpa menurunkan aturan hidup yang fit in".
Kalo katanya Allah swt menghendaki kerusakan yang terjadi pada negara kita hari ini, masa Allah swt ngga ngasih obatnya? Mestinya ada. Dan kenapa Allah swt menghendaki kerusakan ini terjadi apa yang udah kita lakukan sehingga Allah swt semarah ini?
Gimana Allah swt mengatur penataan tentang ruang hidup tidak hanya berlaku untuk muslim saja tapi juga non muslim ngga banyak dibahas diberbagai forum kajian-kajian Islam. Termasuk kedzoliman besar yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya ini sepi dari pembahasan pemuka agama.
Oleh karena itu, meramaikan forum-forum diskusi ide-ide Islam dalam menyelesaikan problem manusia menjadi kebutuhan kita hari ini. Karena kita perlu tahu gimana Rasulullah saw memberi teladan dalam memimpin negara, menerapkan aturan, menegakkan hukum, dll.
Semakin kita kenal Islam dengan baik, harapan baru akan muncul yakni harapan akan perubahan dengan sistem Islam. No hope for capitalism!


0 comments:
Posting Komentar