Minggu, 28 Februari 2021

Book Review : The Great Of Two Umars


Sebuah buku lama yang ingin dibaca dari dulu, namun baru kesampaian. Memang benar, semangat berliterasi dimulai dari membaca buku yang kita inginkan terlebih dahulu. 

Tujuan membaca buku ini memang sengaja untuk memantik minat baca yang tak lagi menggebu-gebu. Di sisi lain, aku inginnya mengenal lebih jauh sosok Umar ibnu Abdul Aziz yang seorang Khalifah yang fenomenal itu. 

Tak jarang banyak orang yang menyebut beliau adalah Umar bin Khattab versi kedua. Sehingga, ekspektasiku terhadap buku ini cukup besar. 

Akan tetapi, ketika membaca halaman awal. Lama sekali tak kunjung selesai cerita Umar bin Khattab ini, dan baru sadar bahwa tulisan biografi Umar ibnu Abdul Aziz lebih sedikit dibanding leluhurnya itu. 

Hal ini karena masa kepemimpinan beliau hanya 29 bulan alias 2 tahun 5 bulan 4 hari. Dibandingkan Umar bin Khattab yang pernah berkuasa selama kurang lebih 10 tahun. Maka tak heran kenapa penulis memberikan porsi yang berbeda. 

Satu kata yang tepat untuk menggambarkan sosok keduanya adalah RINDU. Sebagai individu kita tentu merindukan sosok seperti kedua Umar ini ditengah-tengah dunia yang dilanda banyak krisis termasuk krisis figur bersyaksiyah Islam. 

Alangkah jenuh, masyarakat kita yang kerapkali disuguhkan figur-figur seperti selebgram, youtuber, artis, dll yang hanya menyuguhkan gaya hidup kapitalistik. 

Ada sebuah kisah menarik, saat Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi Khalifah. Ada tiga pemuda yang menemui khalifah hendak mengucapkan selamat. Beliau lantas bertanya, "Anak siapa kalian?".
Pemuda 1, "Aku anak gubernur Bashrah". Umar Diam.
Pemuda 2, "Aku anak komandan pasukan pada masa Al-Walid bin Abdul Malik". Umar tidak merespon.
Pemuda 3, "Aku anak Qatadah bin Nu'man Anshari, yang ikut perang Uhud bersama Rasulullah dan salah satu matanya terluka dan keluar sampai tergantung ke pipi. Lalu, Rasulullah mengembalikannya ke tempat semula dengan tangannya yang mulia." 

Lantas Umar berkata, "Jika ada yang ingin membanggakan diri. berbanggalah seperti pemuda ini yang bangga dengan Islam".

Begitulah kiranya kita mengagumi seseorang bukan dilihat dari seberapa banyak hartanya, atau seberapa tinggi jabatannya apalagi sekedar dari segi fisik. Tapi seberapa besar dia menunjukkan kebanggannya dengan Islam dan banyak berdedikasi di jalan Allah. 

Pantaskah kita membanggakan harta yang sejatinya itu bukan milik kita? Tidak ada yang istimewa dengan sosok seperti itu. Mungkin kita bisa menyimak kisah menarik berikut;

Ketika Umar bin Abdul Aziz mengetahui bahwa seorang anaknya membeli sebuah cincin dengan batu mulia seharga 1000 dirham, ia menulis sepucuk surat kepadanya. 

"Aku bersumpah, kamu harus menjual lagi cincin tersebut dan berikan uangnya kepada seribu orang fakir. Kamu beli saja cincin dari besi seharga satu dirham dan ukir cincin itu dengan tulisan "Allah merahmati orang-orang yang tahu diri."

Keduanya merupakan Khalifah yang terkenal sepanjang sejarah peradaban Islam. Kita RINDU sosok negarawan sebagaimana Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Seorang pemimpin yang tegas, namun memiliki rasa takut yang besar kepada Allah.

Suatu ketika Umar bin Khattab menghampiri seorang wanita tua yang tinggal dalam sebuah tenda dan berkata "Wahai Ibu, tahukah apa yang dilakukan oleh Umar? Ia baru saja pulang dari Syam dengan selamat," Umar pura-pura tidak tahu.

"Semoga Allah tidak memberi balasan yang baik padanya," ujar wanita itu.

"Mengapa?"

"Sejak dia menjadi Khalifah, aku tidak pernah mendapatkan apa pun darinya, baik dirham maupun dinar".

"Dia tidak mengetahui kondisimu, karena kau tinggal disini," ujar Umar.

"Subhanallah! Aku tidak mengira bahwa orang yang dipercaya mengurusi umat, tidak tahu keadaan rakyat yang berada dikanan-kirinya," kilah si wanita tua. 

Mendengar ucapan itu, Umar menangis. Celaka kau Umar. Bahkan nenek tua pun lebih pintar darimu, batin Umar. "Wahai hamba Allah, berapa uang yang harus kubayar untuk menebus deritamu disebabkan Umar tersebut? Katakan, karena aku ingin menyelamatkannya dari neraka". 

"Tak usah kaupedulikan aku. Semoga Allah mengasihanimu."

Namun, Umar terus mendesaknya hingga akhirnya wanita tua itu menghargai deritanya sebesar 25 dinar. Saat itu datanglah Ali dan Abdullah bin Mas'ud "Assalamualaikum, wahai Amirul Mukminin," sapa keduanya.

Mendengar kata-kata Amirul Mukminin, wanita tua itu meletakkan tangan di atas keningnya. "Alangkah buruknya, aku telah memaki Amirul Mukminin di hadapannya langsung."

"Tidak apa-apa. Semoga Allah mengasihimu," ujar Umar.

Karakter kepemimpinan yang luar biasa ini bukan karena ketinggian intelektualnya semata. Tapi ketakwaanlah yang membuatnya begitu berpengaruh sepanjang sejarah emas peradaban Islam. 

Takwa. Satu kata yang mampu mewujudkan karakter kepemimpinan yang berdiri tegak mewujudkan keadilan dan melawan kedzaliman. Dengannya siapapun akan dibuat memiliki rasa takut yang besar kepada Al Khaliq dan Al Mudabbir, bukan kepada manusia. Sehingga ia akan senantiasa berjalan mengikuti kaidah-kaidah syara', bukan diperbudak oleh hawa nafsu.

Sebenarnya banyak sekali kisah-kisah inspiratif dalam buku ini yang semakin menambah rasa rindu kita terhadap sosok negarawan sejati. 

Hari ini sudah 100 tahun kehidupan kaum muslimin tanpa adanya syariah kaffah. Semoga tidak lama lagi melalui dakwah Islam kaffah, syariah Islam bisa ditegakkan sehingga kerinduan kita pun bisa terobati. Allahu Akbar! 

0 comments:

Posting Komentar