Belajar baik ternyata bisa membosankan dan berujung pada capek. Padahal saat pertama kali memutuskan serius belajar mendalami Islam, aku merasa ada perasaan menggebu-gebu untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Betapa nikmat sedikitnya ilmu yang aku dapatkan, merasa bahwa setiap pengorbanan yang kulakukan ini nggak ada apa-apanya karena senantiasa merasa selalu kotor saking banyaknya dosa.
Menghadiri majelis ilmu tiap pekan yang semula terpaksa, lama-lama menjadi kangen. Nikmatnya belajar dulu sebelum majelis dimulai, mencatat ilmu di tepi halaman kitab kalo nggak cukup di notebook atau stickynote, bertanya kepada ustadzah.
Ujung dari itu semua akhirnya aku punya alur berpikir yang benar yakni Islam adalah solusi yang benar tidak ada yang lebih baik darinya. Sekali lagi betapa nikmatnya itu semua.
Tidak sampai disitu aku mulai ngerasi bahwa jangan sampai tsaqofah Islam ini hanya menumpuk dalam pikiran, dari sinilah muncul kebutuhan untuk mengamalkannya. It's on another level.
Mengamalkan ilmu itu juga butuh proses alias belajar. Ya banyaklah yaaa kalo dispill satu-satu belajar mengamalkan apa aja karena bakal panjang banget. Tapi yang pengen aku sampaikan disini belajar dakwah, awalnya aku ngerasa "Kenapa aku harus repot dengan nyeramahin orang?" Secara gak sadar miriplah sama Abu Jahal karena sama-sama nggak suka dakwah. 😒
Singkatnya aku akhirnya paham dakwah itu perintah Allah swt, sholat juga perintah Allah swt jadi dakwah dan sholat sama-sama harus dilaksanakan.
Jadi aku ngerasa berada di dimensi yang berbeda, ya karena nggak ada ekspektasi sama sekali akan terjun dalam medan dakwah. Dan ketika aku mengeksekusi forum pertamaku hasilnya yaa gampang ketebak, pasti ancur-ancuran.
Sedih dan kesel sama diri sendiri itu pasti "Kenapa aku lemah dan bodoh? Setelah sekian lama belajar hasilnya cuma segini?"
Alhamdulillahnya Allah swt masih ngasih kesempatan ada forum-forum lainnya. Disinilah semangat belajar makin menggebu karena merasa selalu kurang.
Sering sekali berada dititik sudah menimba banyak ilmu, pas berhadapan sama banyak orang tiba-tiba kepalaku seperti ke-reset. "Ya Allah kenapa bekal ilmu yang sudah kusiapkan segitu banyaknya bisa ilang semua dalam sekejap, hambaMu yang bodoh ini harus ngomong apa???? Tidaaakk!"
Betapa panjang proses yang kujalani dan sekarang aku kangen dengan semua proses itu. Bayangkan gimana rasanya jika kita sudah biasa menaklukkan tantangan demi tantangan?? Yess the sparks are gone! Karena dakwah itu bukan sekedar kewajiban atau hobi, tapi bagian hidup bahkan nggak ngerasa hidup kalo nggak dakwah. Tapi gmna jika rasamu terhadap dakwah berubah jadi agak flat? Bagiku it's a big deal.
Mulai dengan bertambahnya rasa bosan dari waktu ke waktu dan akhirnya merasa capek dengan itu semua. Apakah memang dakwah itu akan "gini-gini aja?" Padahal siapa yang nggak tahu kalo perjalanan dakwah itu roller coaster.
Sekian lama merenung pada akhirnya aku mentok pada jawaban mungkin pada kasusku jawabannya adalah karena aku terlalu pengecut enggan mengambil tantangan yang lebih, memilih nyaman dengan kondisi yang ada sehingga tidak ada idrak sillah billah bahwa setiap hamba mestinya selalu menjaga kesadaran akan hubungannya dengan Allah swt.
Gimana jadinya jika hubungan dengan Allah swt ini lemah?
Maka semuanya terasa hambar.
Tentu aku harus mengatasi ini semua, sampai akhirnya dilema itu datang "Nyaman dengan rutinitas itu sudah capek, apalagi menghadapi tantangan baru pasti jauh lebih capek dan pastinya butuh effort besaaaar banget buat keluar dari comfort zone?"
Stuck dengan keadaan itu nggak pernah enak, makanya kuputuskan jemput bola bukan sekedar diam dan nunggu. Dalam hal ini aku akhirnya ingin mewujudkan salah satu wishlist ngambil studi bahasa Arab, karena Syaikh Taqiyyudin An Nabhani pernah bilang kalo salah satu penyebab keterpurukan umat Islam adalah karena mereka meninggalkan bahasa Arab padahal tsaqofah Islam itu lazimnya berbahasa Arab.
Barangkali dengan belajar bahasa Arab akan menjadi jalan menjawab berbagai keresahan. Nyambungnya dimana bahasa Arab dengan dilemaku?
Aku sudah mencoba berbagai kemungkinan untuk menjawab keresahanku dan belum berhasil dan tinggal satu hal yang belum kucoba dan emang belum berani nyoba yaitu bahasa Arab.
Sekali lagi stuck dengan keadaan itu nggak enak jadi belajarlah untuk membuat keputusan yang benar. Ini tentang belajar ya bukan hasilnya.
Ternyata mashaAllah, bahasa Arab emang se-amazing itu. Salah satunya keresahan tentang capek belajar baik, ada satu mata kuliah namanya Adab (fyi mata kuliah ini baru dapet ketika mau lulus, emang belajar itu harus sabaaaarr banget). Disitu ada pembahasan tentang syair Imam Syafi'i yang terkenal:
”Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”
Artinya rasa capek saat belajar itu biasa, karena orang yang nggak belajar pun juga capek bahkan jauh lebih capek. Karena ketidaktahuan mereka hanya akan mengantarkan kepada kehidupan yang sempit dan pahit.
Membedakan yang haq dan bathil saja tidak tahu, yang haq diragukan dan yang bathil dilakukan. Padahal hidup ini berjalan sesuai kehendak Allah swt yang kita tidak punya pengetahuan apapun tentangnya. Tapi yang jelas selama kita istiqomah belajar mencari petunjuk Allah swt insyaAllah hidup kita akan selamat dari kekufuran sebagaimana firman Allah swt:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kalian sebagaimana manusia beriman. Mereka berkata: Adakah kami akan beriman layaknya orang-orang bodoh yang beriman? Sesungguhnya, merekalah orang-orang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13).
Mereka yang hidup dengan kebodohan itu malah menganggap jalan orang-orang yang beriman adalah jalan kebodohan. Petunjuk Allah diabaikan karena merasa nafsunya lebih benar.
Last but not least, karena bahasa Arab aku jadi menemukan sparks belajar Islam dan dakwah. Dan karena bahasa Arab juga aku merasa banyaaaaak sekali hal yang mesti dipelajari dan diamalkan. Alhamdulillah Allah swt masih meridhoi aku untuk bisa sampai pada titik ini, titik yang membuat aku merasa lemah dan serba kurang meanwhile perjalanan masih panjang dan banyak tantangan baru yang menunggu ditaklukkan.
Jadi gmna apa yg sudah kalian lakukan agar nggak bosen dan capek buat belajar jadi baik?


0 comments:
Posting Komentar