Pas ngeliat generation gap di iklan Indosat edisi bulan ramadhan, agak aneh sih. Emangnya generation gap itu separah itu? Maksudku apakah para orang tua bener-bener gak bisa mengikuti perkembangan teknologi digital sehingga bonding diantara keduaya jadi kurang?
Aku jadi inget ya, dulu awal-awal munculnya fb dan twitter muncul aku sampek hafal menu-menu settingnya. Sampek beberapa orang nanya ke aku cara ganti nama akun, solusi lupa password, bahkan cara bikin album foto di fb.
Pas belum ada filter-filter cantik kek sekarang, dulu banyak juga temen-temen yang ngedit foto pake Xiu-xiu hahaha manipulasinya parah banget. Aku dulu lebih suka Picasa bawaan Google, tidak lebih canggih dari Xiu-xiu cuma biar beda aja dengan yang lain.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat akhirnya memaksa kita untuk stay update dengan apa yang sedang trend hari ini. Dulu aku juga sempet hafalin fitur-fitur Whatsapp, Telegram, Instagram, dll.
Tapi lama-lama capek juga ya. Belum lagi menu-menu settingnya jauh lebih ribet dan ruwet, meski UI-nya lebih menarik dari sebelumnya. Beberapa waktu lalu aku dikasih tahu fitur wa yang bisa ngasih liat history panggilan meskipun call log-nya sudah dibersihkan. Kek ngapain ada fitur itu? Belum lagi di Ig ada fitur flipside padahal bagiku fitur close friend aja belum masuk di aku.
Itu semua menurutku bikin capek sih, kenapa kita nggak kembali ke setelan awal aja tujuan social media itu buat berbagi hal-hal yang bermanfaat dan stay connected sama orang yang jauh dari kita. Ini baru tentang social media ya, belum yang lain. Apa tuh? Game online.
Banyak orang tua yang resah dengan kebiasaan anak main game online, walaupun nggak semua tapi nggak jarang itu mempengaruhi cara komunikasi anak. Dia ngomong apa, ibunya nggak paham. Giliran ibunya paham dan ngerespon, dia nggak respon balik, karena nggak paham maksud ibunya.
Belum lagi kosakata digunakan juga sulit dipahami bagi orang tua millenials. Makanya nggak heran kalo ada yang ngomong jorok dibiarin sama orang tuanya karena mereka nggak tahu kalo itu kata-kata jorok versi "Modern".
Disini aku baru sadar emang Generation Gap Is Real. Banyak anak yang merasa bahwa orang tua mereka itu old school, sehingga mereka jaga jarak karena percuma orang tua nggak bakal ngerti dunianya. Jadi pada nggak bisa menghargai nasehat dari orang tua yang lebih dulu merasakan pahit manisnya kehidupan dibanding mereka.
Orang tua pun merasa anak-anak muda itu "sok", mentang-mentang orang tua kurang paham dunia digital mereka bisa skip dengan mudah. Di sisi lain anak-anak itu juga kurang bisa menjelaskan dunianya kepada orang tua. Akhirnya mereka pun juga ikutan jaga jarak dengan anak-anaknya.
Maka disini aku baru ngeh tentang hadits Rasulullah "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu". Artinya ya, menjadi orang tua ataupun guru saat mendidik anak memang mesti menyesuaikan dengan zamannya. Bukan malah glorifikasi masa lalu, "Sekarang itu enak..., jaman dulu lebih susah karena nggak ada internet .......". "Dasar generasi instan, lemah......".
Aduh emang nggak kebayang sih, susahnya jadi orang tua ketika mesti mengeluarkan effort lebih agar stay update demi anak. Apalagi perkembangan dunia digital ini sangat cepat, teknologi bisa berubah semula dari peluang dalam sekejap bisa menjadi ancaman. Tapi percayalah, anak akan lebih respect dengan orang tua yang bisa memahami dunianya.
Aku juga bukan gamer, tapi rasanya kek nyesek saat ngeliat anak-anak ngobrolin dunianya trus aku nyoba nimbrung nggak bisa. Pernah nyoba nimbrung:
🧕: "Roblox itu apa?"
👦: "Permainan"
🧕: (Dalam hati, ya tahulah emang aku setua itu nggak bisa memahami kalo kalian dari 10 menit yang lalu lagi ngomongin games). "Iya permainan apa?"
👦: "Itu permainan yang di dalamnya ada banyak permainan".
🧕: "Apa aja permainannya?"
👦: "Apa yaaaa, yaaaaa banyak pokoknya"
🧕: "Kalo kalian biasanya main yang mana?"
👦: "Ya ganti-ganti"
See?? Sebuah percakapan yang muter-muter dan minim informasi.
Orang tua hari ini memang harus pinter-pinter nyari peluang buat ngobrol sama anak yang sudah mengenal dunia game online. Sehingga apapun yang berkaitan dengan game online bisa jadi uslub dakwah.
Misalnya "Kenapa Hero punya nyawa banyak, itu sebagaimana imajinasinya orang kafir. Karena mereka itu takut mati, jadi pengennya punya nyawa yang banyak biar nggak mati. Padahal kematian bukanlah hal yang perlu ditakutkan, karena kalo nggak mati dulu nggak bisa masuk surga.
Bisa juga memahamkan bahwa it's just a game kalah nggak perlu banting hp. Menang kalah dalam pertandingan hal yang biasa, kalah dalam permainan bukanlah akhir dari segalanya. Bisa jadi itu teguran dari Allah swt, karena kita melalaikan sholat, daaan banyaklah contoh lainnya.
Kembali ke manual. Memang bisa dibilang banyak yang kewalahan menghadapi anak yang sudah terlanjur kenal game online. Tapi, boleh dicoba untuk mengenalkan permainan atau kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik. Mesti harus dicari minatnya satu persatu agar anak tertarik dan secara perlahan mengurangi bahkan meninggalkan kebiasaan bermain game online.
Ditengah gempuran industri game online, apalagi negara cenderung menjadikan generasi muda sebagai pangsa pasarnya. Tentu kita kalang-kabut menghadapi ini semua. Bukan berarti mewajarkan dan menyerah dengan keadaan, malah justru inilah saat yang tepat agar sama-sama saling menyelamatkan generasi muda dari berbagai pengaruh buruk yang mengancam mereka meski harus terseok-seok. Wallahu a'lam bishawab.


0 comments:
Posting Komentar