Pendidikan gratis, mudah diakses, kualitas bagus, dan merata tanpa mengorbankan masa depan para pendidik. Maksudnya mereka mendapatkan upah yang layak. Sungguh keindahan yang sangat apa 🙌
Hampir semua pihak sepakat akan hal itu, tapi realisasinya mendekati mustahil. Lha gimana nggak sulit orang pendidikan dianggap sebagai komoditas sehingga dikomersilkan. Alhasil ada uang ada barang.
Ada istilah jahl dalam bahasa Arab yang artinya kebodohan. Istilah Jahl antonimnya 'ilmu atau bisa juga diartikan dengan 'adamul 'ilmi alias ketiadaaan ilmu. Artinya ketika seseorang punya ilmu maka dia tidak bodoh. Segitu pentingnya ilmu dalam hidup manusia, hanya dengannya manusia terbebas dari belenggu kebodohan.
Aku sendiri ngerasa agak gemes ketika ada orang yang nggak tahu lalu dikasih tahu, tapi nggak mau dengerin cenderung kekeh dengan ketidaktahuannya. Endingnya bisa ketebak laaah, ketidaktahuannya itu malah menjerumuskannya.
Misal, ada orang punya masalah keuangan tapi ngebet pengen punya banyak uang dengan instan. Logikanya harusnya jangan pake cara instan, kerja aja yang sabar nanti bakal kebeli kok apa yang dia mau. Eh, malah milih paylater atau judi online. Endingnya mengenaskan.
Maka bener kata Imam As-Syafi'i kebodohan itu menyiksa dan pedih. Sudahlah salah bikin keputusan, ditambah menyesal lagi. Penyesalan akan terus membayangi dan parahnya lagi tidak tahu bagaimana mengolah penyesalan. Yes, itu semua butuh ilmu.
Misal milih makanan sehat, mengatur keuangan, berteman, tobat dari judi online, bahkan tidur pun ada ilmunya. Maka bayangkan jika manusia tidak mendapatkan ilmu yang cukup selama dia hidup? Pastinya dia hanya akan mengacaukan hidupnya.
Maka bisa dibilang ilmu itu kayak makanan buat otak. Kalo otaknya nggak dikasih makanan alias jarang kepake maka sekalinya diajak mikir bakal berat banget karena otaknya nggak terbiasa kerja.
Kembali ke topik awal, walaupun ilmu nggak harus didapatkan melalui pendidikan formal akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa adanya sekolah dan perguruan tinggi sangat membantu memperbanyak intelektual di tengah masyarakat.
Siapa yang nggak pengen kalo komposisi masyarakatnya mayoritas terdiri dari ulama, ilmuwan, dan para penuntut ilmu yang mereka berlomba-lomba berkontribusi untuk masyarakat? Maka perlu adanya support berupa sistem pendidikan yang mampu mewujudkan itu semua.
Sistem pendidikan hari ini mustahil karena sekali lagi pendidikan hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu menjangkaunya baik dari segi akses serta biayanya yang mahal.
Selain dilarang sakit, orang miskin juga dilarang pinter. Begitulah jika orientasi pendidikan yang berasaskan aspek materialistik, yang dikejar adalah keuntungan semata.
Inilah yang semestinya harus dikritik bukan malah insecure hingga mengolok orang-orang yang mampu kuliah. Karena pendidikan itu hak bagi setiap individu masyarakat, maka kritik tajam harus dilemparkan kepada para pemimpin negara sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyatnya.
Bukan malah terjebak pada derbi klasik yakni pertarungan antara si kaya dan si miskin. Konflik ini sering dan akan terus terjadi dalam sistem kapitalisme.
Sekali lagi karena setiap orang berhak mendapatkan akses mengenyam pendidikan dengan mudah. Maka jika ada satu individu yang kesulitan menjangkaunya wajib bagi seorang pemimpin untuk memudahkan.
Seperti itulah konsep pendidikan dan kepemimpinan dalam Islam. Bahkan sejarah pun mencatat bahwa hanya dengan kepemimpinan syar'i pendidikan yang ideal bisa terwujud. Wallahu a'lam bishawab.


0 comments:
Posting Komentar